Sabtu, 30 Agustus 2014

Tifatul Sembiring yang Benci-able

Sumber Gambar : Flickr
Saya banyak menemui teman fb dan twitter saya yang membenci pak Tifatul Sembiring, menteri Kominfo . Tak hanya sekarang, seingat saya sudah bertahun-tahun lalu kebencian itu saya rasakan. Entah alasanya apa, namun kadang saya menemui alasanya seperti anak kecil. Misal yang paling terkenal adalah kalimatnya “internet cepet buat apa?”. Haha, saya pribadi yang gak ngefan atau nge-hate memandang pertanyaan tersebut biasa saja. Sangat biasa. Malah secara goblog saya memahami pertanyaan itu sebuah sindiran kepada para netters yang tidak memanfaatkan internet dengan bijak. Namun ya namanya juga internet, opini warga online itu nano-nano, ramai dan macem-macem. itupun masih bisa dijabarkan lagi menjadi tanggapan wajar, tidak wajar atau sudah kurang ajar. pokoknya saya seringlah menemui tentang yang tidak wajar bahkan kurang ajar terhadap pak mentri ini. duh sejahat itukah beliau itu? seakan dia tak punya jasa?

Walaupun saya tak mengikuti berita yang sudah lampau itu, namun sekarang masih saja kalimat itu dijadikan senjata buat mem-bully pak tif. Apalagi yang namanya Haters, mungkin apapun yang dilakukan pak tif dimata mereka selalu salah, mereka menilai hal tidak secara bijak, tidak dengan akal sehat, pokoknya menolak apapun dari yang dibenci, walaupun itu prestasi. Seperti cinta yang banyak orang bilang buta, mungkin benci itu juga buta. Kalau sudah benci duluan, Seakan seluruh amal baiknya yang dibenci luntur karena kesalahan yang besarnya setitik tinta.

Kalau ridwan kamil yang membuat kalimat tersebut, mungkin beda lagi. Saya sering menemui tweet beliau yang kocak abis? apalagi dulu saat pak Kamil membalas tweet dari Farh*t Ab*s, pengin ngakak aja rasanya. nah, tanggapan publik dengan pernyataan-pernyataan pak Ridwan sepertinya respect abiessttt walaupun kocak.

saya jadi berfikir, Apakah mungkin memang sosok pak tif itu Benci-able ya? Atau apakah ada pembentukan opini? Atau karena partainya PKS? Soalnya PKS itu juga benci-able. Entahlah, saya juga kadang geleng-geleng kepala lihat para penghujat dunia maya.

walau saya tak nge-fan sama Pak Tif dan jarang mengikuti beritanya atau kominfo, saya adalah orang yang merasakan bahwa internet semakin kesini makin cepat saja. Semakin murah juga sih, walau bagi saya masih mahal wkwk. Dari saya pertama kali nge-net tahun 2004 sampai saat ini, jelas sekali merasakan kemajuan. Apalagi 2014 ini, internet bisa dengan mudah digunakan. Saat ini saja saya sedang mengakses Internet dari sebuah desa kecil terpelosok namanya Kedung kalangan, sragen, jawa tengah. Dimana mungkin 200 meter lagi kearah timur, sudah masuk area Jawa Timur. Dan  jangan salah, kecepatanya coi, wuz wuz. Sudah cukup lah untuk menunjang keperluan pekerjaan saya . dan juga itu sudah cukup untuk menobatkan Pak Tif sebagai menteri yang berprestasi. Itu sih Saya, Anda gimana?

Kamis, 28 Agustus 2014

antara Langka BBM dan Zombie

BBM adalah salah satu hal terpenting di sendi kehidupan manusia. jangan sepelekan hal yang satu ini, sekali terjadi ketidak seimbangan, bisa berpengaruh pada banyak aspek kehidupan. dan seperti yang kita ketahui, saat ini sedang terjadi kelangkaan BBM. pemandangan pun berubah tak seperti biasanya.

kemarin saya berkendara dari solo menuju sragen, saya memang sudah antisipasi. berangkat  dari solo motor saya harus sudah full tank, maka saya pergi ke POM dekat SMA7. itu pun tidak mudah, saya harus antri panjang banget untuk mendapatkanta. ini pemandangan langka, dimana biasanya yang antri lenggang-lenggang saja.

saat dalam perjalanan, saya menemui daerah sebelum masuk masaran terjadi macet. ini lumayan wajar, mengingat itu jalur utama dan karena jalanan situ memang sempit. saya kira-kira berpikir mungkin terjadi perbaikan jalan atau kecelakaan. tapi tidak, ternyata di pom bensin situ terjadi antrian pembeli BBM yang menurut saya begitu chaos.

pelangganya yang antri begitu nano-nano, mungkin ada kendaraan pribadi sampai umum. namun fokus saya terletak pada truk gandeng. bayangkan satu truk gandeng saja bisa memenuhi 1/4 lokasi POM, lah kemarin itu banyak banget seingat saya truk nya. Alhamdulillah, saya yang cuma pakai motor pun bisa menyelinap di cela-cela kendaraan. huh, sekali lagu pemandangan ini benar-benar langka.

pemandangan pun hampir sama disetiap POM yang saya lewati, namun tak se chaos di daerah sebelum masaran tadi, mengingat jalanan lain berukuran lebih lebar. namun, perjalanan itu saya sempatkan berhenti di POM tunjungan. POM legendaris yang dekat dengan desa kelahiran saya. sama sih, chaos. tapi yang membuat unik adalah, disini tidak hanya kendaraan yang antri, namun juga warga yang membawa drigen (wadah BBM). puluhan manusia itu nampak berpusat di satu titik, seperti sedang 'kelaparan', menunggu jatah BBM datang ditangan. sekilas menatap keadaan ini saya jadi teringat video-video Zombie yang populer di luar negeri. dalam situasi seperti ini, manusia cenderung mudah tersulut emosi dan berubah jadi 'Zombie'.

Saya berpikir, bila ada oknum manusia yang sengaja mengatur sedemikian rupa keadaan ini demi kepentinganya, alangkah kejamnya mereka itu. tak hanya satu dua orang yang teraniaya, mulai dari ribuan bahkan jutaan. Wallahualam

Ya Allah, segerakan untuk berlalu penderitaan ini. 

Jumat, 22 Agustus 2014

Prioritas yang terkecoh

dulu saat masih awal kuliah, saya sangat bersemangat mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). UKM itu semacam ekskul kalau di SMA. sampai semangatnya, bukan hanya satu dua yang saya ikuti, mungkin sampai lima. mungkin saat itu pikiran saya mumpung ada kesempatan belajar gratis, kenapa tak diambil semua? "Bisa" semua sepertinya keren, multitalent. padahal pada hakikatnya manusia itu tidak bisa seperti itu, saya sangat jarang menemui master dibanyak bidang. walaupun ada orang yang ahli dibeberapa bidang sekaligus, tapi yang mencolok biasanya hanya satu bidang saja.

pada awalnya prioritas saya telah terkecoh. terkecoh oleh beberapa peluang, karena mengedepankan nafsu, jadinya tak tahu diri. dari banyak UKM yang saya ikuti tersebut akhirnya yang bertahan hanya satu, karena yang satu itu saya merasakan ada passion disitu.

Ada satu cerita yang lebih menggelitik lagi, ini mengenai seseorang yang saya kenal. kami berkawan saat awal kuliah dulu, walau di semester-semester akhir dia menghilang. sama seperti saya, yang saat itu sedang semangatnya menjalani kegiatan kuliah, beliau pun begitu. saat itu kami mendapat tugas dari dosen, kalau tidak salah tugas tersebut diharuskan untuk melampirkan foto berformat digital. kami para mahasiswa generasi 2007 jarang yang punya kamera digital.  tahun 2007, sebuah kamera digital adalah barang yang mewah. dan cerita yang menggelitik itu adalah teman saya rela membeli kamera digital baru hanya untuk mengerjakan tugas tersebut. bayangkan coba, mengeluarkan uang yang seingat saya 3 atau 4 juta untuk membeli kamera hanya untuk digunakan mengerjakan tugas. berarti setelah tugas selesai kamera itu untuk apa dong? hehe. saya yang miskin ini tentu terkejut mengetahui hal tersebut.

mungkin dari kisah diatas bisa muncul pernyataan,
"Ya kan untuk totalitas mengerjakan tugas"
 iya, totalitas. tapi sayang tidak efisien. bukankah bisa menyewa?

"Ya kan duitnya sendiri, namanya juga orang kaya. lagian setelah itu bisa digunakan untuk kegiatan lain."
walau sekaya apapun anda, tetap tindakan seperti itu saya tidak setuju. coba bayangkan dengan akal sehat cerita diatas. membeli barang yang fungsinya tidak benar-benar efektif untuk kehidupanya. membeli kamera hanya untuk mengerjakan tugas saja? so? are you kidding me? iya kalau kita ini mahasiswa fotografi? kita ini mahasiswa komputer men, seingat saya setelah itu tak ada lagi tugas yang pakai kamera. iya kalau harganya 100-200 ribu, itu jutaan men. bahkan setelah itu kemungkinan barang itu sering "nongkrong di gudang", ya karena tak benar-benar "berfungsi" untuk kehidupanya.

sekali lagi, saya memandang hal tersebut sebagai prioritas yang terkecoh.

saya sering menemui hal seperti ini, bahkan kadang diri ini juga terkecoh sendiri. maka dari itu, pertama-tama tulisan ini untuk saya sendiri.

Senin, 18 Agustus 2014

Tawarkan

Malam ini setelah menyelesaikan urusan, Saya mampir di angkringan. jujur tadi Saya tak ingin makan makanan besar (nasi/mie). Rencananya sih cuma ingin ngemil saja, karena perut dalam keadaan bimbang, Lapar? enggak! kenyang juga enggak. intinya saya yakin ini kalau tidak di isi, nanti malam bakal kelaparan.

setelah melahap ubi dan pisang goreng dipadu dengan seruputan teh hangat, sebenarnya saya masih ragu dengan keadaan perut saya yang juga masih ngambang antara kenyang dan tidak. Tapi saat itu jelas, tidak terbesit untuk makan besar seperti mie atau nasi.

namun, tiba-tiba ibu sang penjual memecah keheningan. ditengah keraguan yang sebenarnya tak begitu saya pikirkan, ibu itu  seakan mengucapkan kalimat penawaran yang mematikan. seingat saya beliau bilang, kira-kira intinya begini : "kamu mau mie juga nggak?", akhirnya saya kikuk, "sebenarnya sih, duh bagaimana ya untuk menjelaskan?" namun perlahan ragu yang tak berarti tadi cair hingga akhirnya saya pun luluh. "NGGIH" (Ya), saya pesan mie.

Sebagai orang yang mengagumi dunia marketing, Banyak kesimpulan dari kejadian yang saya tulis dengan tidak rapi diatas. ternyata itulah power of call to action. akhirnya saya secara sadar merasakan bagaimana kekuatan "penawaran" bisa meluluhkan keraguan. saya merasakan sendiri bagaimana diri ini dengan polosnya akhirnya memesan mie rebus. walau mungkin diri ini butuh makanan, namun saat itu saya tidak terbesit atau terpikirkan untuk membeli. akhirnya dengan penawaran dari ibu yang sederhana namun tepat itu bisa menghasilkan sales.

Mungkin ada calon pembeli diluar sana yang seperti saya ini, mereka sebenarnya butuh, namun tidak ingin membeli. mungkin karena ragu atau tidak begitu mendesak. mereka hanya butuh sedikit diyakinkan.

Ayo, Tawarkan!